SAMARINDA – Alarm kewaspadaan dini resmi berbunyi di Kalimantan Timur. Di tengah bayang-bayang kemarau panjang yang diprediksi BMKG, sebanyak 38 titik panas (hotspot) terpantau mulai menyebar dan "mengintip" wilayah Benua Etam pada Selasa (31/3/2026) pagi. Meski status siaga darurat secara administratif masih dalam proses, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim memilih untuk tidak duduk diam dan mulai memanaskan mesin kesiapsiagaan.
Koordinator Pusdalops BPBD Kaltim, Cahyo Kristanto, menegaskan bahwa penetapan status hukum menjadi fondasi penting bagi gerak cepat di lapangan.
“Kami masih menunggu SK penetapan status siaga. Itu penting sebagai acuan kabupaten dan kota dalam menentukan langkah penanganan,” ujar Cahyo saat memantau sebaran titik panas melalui layar monitor.
Meski demikian, prosedur birokrasi tidak menghalangi pengecekan fisik di lapangan. Menjelang puncak kemarau yang diprediksi menghantam pada Juli hingga September mendatang, seluruh personel di daerah diminta tidak lengah. Mesin pompa air, tangki, hingga perlengkapan pemadaman lainnya kini sedang diinspeksi ulang untuk memastikan tidak ada kendala teknis saat api mulai berkobar.
“Peralatan harus dipastikan siap pakai. Jangan sampai saat kejadian justru terkendala teknis,” tegas Cahyo dengan nada instruktif.
Data terbaru menunjukkan sebaran titik panas ini nyaris merata menyentuh wilayah Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, hingga Bontang. Hanya Samarinda dan Mahakam Ulu yang sejauh ini masih mencatatkan rapor nihil. Namun, kondisi lahan gambut yang rawan membuat BPBD meminta kolaborasi lintas sektor—mulai dari perusahaan hingga pengelola hutan—untuk berdiri di baris yang sama.
Cahyo juga memberikan pesan menohok bagi masyarakat yang masih memiliki kebiasaan lama dalam membuka lahan. Ia mengingatkan bahwa satu puntung rokok atau satu korek api yang menyulut lahan kering bisa berujung pada bencana kabut asap yang masif.
“Peran masyarakat sangat penting. Pencegahan lebih efektif daripada penanganan. Semua harus bergerak bersama karena hampir seluruh wilayah Kaltim rawan karhutla, terutama di daerah gambut,” jelasnya lagi.
Meski sesekali hujan masih turun membasahi bumi etam, BPBD menganggap hal itu sebagai "bonus" dan bukan alasan untuk menurunkan standar penjagaan. Ketidakteraturan cuaca justru menuntut kesiapsiagaan yang lebih tinggi dari biasanya.
“Yang terpenting adalah kolaborasi. Jika semua pihak siap, risiko kebakaran bisa kita tekan bersama,” pungkas Cahyo optimistis. (*)
Editor : Indra Zakaria