Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Tak Tahan Aroma Sampah, Puluhan Calon Operator Insinerator Samarinda Mundur Massal

Redaksi Prokal • 2026-04-01 09:11:05
Salah satu insinerator yang siap dioperasikan berada di kawasan Polder Air Hitam. (MELI/SAPOS)
Salah satu insinerator yang siap dioperasikan berada di kawasan Polder Air Hitam. (MELI/SAPOS)

 

PROKAL.CO- Mimpi Pemerintah Kota Samarinda untuk menyulap wajah pengelolaan sampah melalui teknologi insinerator kini terbentur realita yang aromanya tak sedap. Meski sepuluh unit mesin pemusnah sampah sudah rampung berdiri kokoh—termasuk yang berada di kawasan Polder Air Hitam—operasional alat-alat tersebut justru terganjal oleh krisis tenaga kerja. Bukan karena ketiadaan mesin, melainkan karena hidung para calon operator yang ternyata tak kuasa menahan sengatan bau sampah kota.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mencatat masih membutuhkan sedikitnya 46 operator untuk menggerakkan seluruh unit insinerator tersebut. Namun, proses rekrutmen berubah menjadi drama "mundur massal". Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar, mengungkapkan bahwa lebih dari 20 orang memutuskan berhenti hanya dalam waktu satu atau dua hari setelah mencoba bekerja di lapangan.

Penyebab utamanya sangat manusiawi: bau yang menusuk tulang. Sampah yang dihadapi para pekerja bukanlah limbah kering yang sudah terpilah, melainkan sampah segar langsung dari Tempat Penampungan Sementara (TPS). Di sana, mereka harus bergelut dengan sampah basah, sisa makanan busuk, hingga bangkai hewan yang tercampur jadi satu. Kondisi ekstrem inilah yang membuat banyak pelamar langsung menyerah di masa pelatihan.

Menghadapi peliknya mencari tenaga "tahan banting", DLH Samarinda terpaksa menurunkan standar. Jika sebelumnya pendidikan minimal dipatok lulusan SMA, kini aturan itu dilonggarkan demi mengisi kekosongan formasi. Syaratnya kini sederhana: memiliki identitas jelas (KTP) dan yang paling krusial adalah kemauan bekerja keras di tengah kepungan limbah.

Pihak DLH bahkan sempat menjajaki kerja sama dengan Dinas Sosial untuk merangkul kelompok masyarakat rentan, seperti para "manusia silver", agar mau bergabung menjadi operator. Taufiq menegaskan bahwa meski prosesnya melambat karena harus terus melakukan rekrutmen berulang, pihaknya tetap optimistis fondasi tenaga kerja akan segera terbentuk.

Kini, masa pelatihan bukan lagi sekadar transfer ilmu teknis mesin, melainkan ajang seleksi alam untuk menguji komitmen dan ketahanan fisik para pekerja. Bagi warga Samarinda yang merasa memiliki "hidung baja" dan ingin berkontribusi langsung bagi kebersihan kota, pintu pendaftaran di kantor DLH Samarinda masih terbuka lebar. Pemerintah berharap, begitu krisis SDM ini teratasi, sepuluh insinerator yang sudah siap tersebut bisa segera memerdekakan Samarinda dari tumpukan sampah yang selama ini menghantui. (*)

Editor : Indra Zakaria
#samarinda