PROKAL.CO, BALIKPAPAN-Jangan sembarangan dalam perawatan mata. Jangan pula mudah terbuai dan mengikuti tren yang sedang ramai.
Cari aman saja, jangan cuma mengejar gaya, ikuti saran dokter jika mengalami gangguan penglihatan.
Jika tidak akan seperti remaja satu ini.
Usia baru 16 tahun mengalami kebutaan mata kanan.
Baca Juga: Sudah Betul Kembalikan Mobil, Eh, Bikin Ramai Lagi Renovasi Rumah
Kondisi mata si remaja sudah mengalami kebutaan saat dibawa keluarganya berobat ke Rumah Sakit Mata Sabang Merauke Eye Center (SMEC) Balikpapan.
Cerita remaja itu jadi bahan pelajaran yang disampaikan oleh dr Dani Ibrahim dari SMEC Balikpapan saat memberikan edukasi seputar mata dan penyakit mata di Gedung Biru Kaltim Post, Balikpapan, Kamis (12/3/2026).
Saat itu, manajemen RS SMEC Balikpapan menggelar pemeriksaan mata dan edukasi seputar kesehatan yang merupakan rangkaian peringatan ulang tahun ke-20 SMEC Group.
Secara umum dr Dani menceritakan apa yang terjadi pada remaja tersebut hingga mengalami kebutaan dan datang ke RS SMEC Balikpapan.
Sebelumnya, kata dia, remaja itu adalah pengguna kontak lensa.
Baca Juga: Mengakhiri Gaduh BPJS, Saatnya Sinergi Bukan Saling Mengunci
Nah, setelah melepas kontak lensa usai beraktivitas tiap hari, dia biasa menggunakan tetes mata merek tertentu yang kandungannya harusnya dengan arahan dan resep dokter.
Sementara remaja itu tak merujuk pada resep dokter. Dan rutin menggunakan tetes mata tersebut.
Terjadilah kebutaan pada mata kanannya. Mata kirinya juga sudah mengalami gangguan.
Cerita ini, kata dia, sebagai pengingat kepada publik agar tidak sembarangan dalam penanganan terhadap salah satu organ vital ini.
Lebih jauh, dr Dani menjelaskan, secara internasional maupun nasional, penyebab kebutaan yang paling sering ditemukan adalah katarak dan glaukoma.
Dua kondisi itu kerap tidak disadari sejak awal karena gejalanya muncul perlahan.
Dalam konteks pekerja aktif, kata dia, gangguan yang paling banyak ditemukan berbeda.
“Pada pekerja usia produktif, biasanya masalah yang sering muncul adalah keperluan ukuran kacamata (mata minus), mata kering, dan mata lelah. Terutama pada mereka yang lama menggunakan komputer atau gawai,” jelasnya.
Ia mengingatkan, pentingnya menerapkan prinsip 20-20-20 sebagai langkah sederhana menjaga kesehatan mata.
Prinsip tersebut menganjurkan setiap 20 menit bekerja di depan layar komputer, mata diistirahatkan dengan melihat objek berjarak lebih dari 20 kaki selama 20 detik.
“Jangan lupa juga berkedip dan cukupi konsumsi air mineral. Hal-hal kecil seperti ini sangat membantu mencegah mata cepat lelah,” tambahnya.
Selain pekerja dewasa, Dani juga menyoroti kondisi kesehatan mata anak.
Ia menegaskan bahwa mata minus tidak selalu disebabkan oleh penggunaan gawai, melainkan juga dapat diturunkan secara genetik.
Baca Juga: Begini Cara Mengelola Keuangan Secara Sehat agar Terhindar dari Utang
“Mata minus ternyata juga bisa diturunkan. Karena itu, anak sebaiknya diperiksakan sebelum masuk sekolah. Idealnya sebelum usia tujuh atau delapan tahun,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui penggunaan gawai tetap berpengaruh terhadap kesehatan mata anak.
Terlalu lama melihat objek jarak dekat membuat anak terbiasa fokus dekat dan malas melihat jauh. Sehingga berpotensi memperburuk kondisi penglihatan. (*)
Editor : Faroq Zamzami