BALIKPAPAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Timur. Peringatan serius ini muncul setelah pantauan satelit mendeteksi adanya 171 titik panas (hotspot) yang tersebar di enam kabupaten dan kota akibat cuaca terik pasca-Idul Fitri.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, menjelaskan bahwa suhu udara yang melonjak tinggi dalam beberapa hari terakhir menjadi faktor utama pemicu munculnya titik-titik panas tersebut. Kondisi vegetasi yang mulai mengering meningkatkan risiko api cepat merambat jika terjadi pemantikan.
"Cuaca dalam beberapa hari terakhir sejak Idul Fitri memang sangat panas, sehingga memicu munculnya banyak titik panas di berbagai titik," ujar Carolina dalam keterangannya di Balikpapan.
Berdasarkan rekaman data BMKG pada Jumat (27/3/2026), sebaran 171 titik panas tersebut meliputi Kabupaten Kutai Timur sebagai wilayah dengan titik terbanyak yaitu 125 titik. Disusul oleh Kabupaten Kutai Kartanegara dengan 20 titik, Kabupaten Berau 11 titik, Kabupaten Paser 10 titik, Kota Bontang 3 titik, serta Kota Balikpapan dengan 2 titik panas.
Menyikapi fenomena ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk ekstra waspada dan menghindari aktivitas yang berisiko menyulut api. Beberapa langkah pencegahan yang ditekankan antara lain larangan membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok yang masih menyala di area terbuka, serta menghindari pembersihan lahan dengan cara dibakar.
Selain imbauan kepada warga, BMKG juga mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait untuk segera melakukan verifikasi lapangan. Pengecekan langsung di lokasi titik panas sangat diperlukan guna menentukan tingkat risiko dan melakukan penanganan cepat sebelum api meluas menjadi kebakaran besar.
"Tim BPBD bersama unsur terkait diharapkan segera memastikan apakah titik panas tersebut berpotensi menjadi karhutla. Jika wilayah tersebut dinilai rawan, penanganan harus segera dilakukan di tempat," tegas Carolina.
Sinergi antara pemerintah daerah, dinas pertanian, dinas perkebunan, hingga petugas pemadam kebakaran kini menjadi kunci utama. Edukasi kepada para petani dan pekebun mengenai bahaya karhutla terus digencarkan agar pembukaan lahan dilakukan tanpa metode bakar, demi menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat Kalimantan Timur dari ancaman kabut asap. (*)
Editor : Indra Zakaria