LAS VEGAS – Pengorbanan besar kembali ditunjukkan oleh raja kelas bantam UFC, Merab Dvalishvili. Petarung berjuluk "The Machine" ini mengungkapkan kondisi cedera horor yang dialaminya saat sesi latihan, di mana hidungnya mengalami patah tulang serius akibat hantaman lutut yang tak sengaja mengenai wajahnya.
Meski cedera tersebut berdampak langsung pada fungsi pernapasannya, Merab mengambil keputusan mengejutkan dengan menolak tindakan operasi medis dalam waktu dekat. Alasan utamanya adalah durasi pemulihan pasca-operasi yang dinilai terlalu lama bagi seorang petarung yang sedang berada di puncak karier.
Sulit Bernapas Namun Enggan Menepi
Kondisi patah hidung tersebut ternyata cukup parah. Merab mengaku bahwa jalur pernapasannya kini terganggu secara signifikan, yang tentu menjadi kendala besar bagi atlet dengan gaya bertarung intensitas tinggi seperti dirinya. “Aku bahkan tidak bisa bernapas di satu sisi hidungku sekarang,” ungkap Merab dengan nada bicara yang masih menunjukkan ketangguhan.
Berdasarkan konsultasi medis, prosedur perbaikan hidung secara menyeluruh akan memakan waktu pemulihan hingga satu tahun penuh. Bagi Merab, absen selama satu tahun dari oktagon bukanlah sebuah pilihan, mengingat ia ingin terus aktif mempertahankan sabuk juaranya dan berkompetisi di level tertinggi.
Alih-alih naik ke meja operasi, petarung asal Georgia ini memilih untuk berdamai dengan rasa sakit dan risiko estetika yang mungkin timbul akibat tulang hidung yang tidak rata. Ia memilih untuk terus melangkah maju meski harus menanggung konsekuensi fisik jangka panjang.
“Kurasa aku akan semakin bersikap sinis dan menerima konsekuensinya,” tambahnya singkat, menyiratkan bahwa ia lebih memilih memiliki hidung yang bengkok atau rusak secara permanen daripada harus kehilangan momentum emasnya di UFC.
Langkah berani ini semakin mempertegas reputasi Merab sebagai salah satu petarung paling keras kepala dan berdedikasi di dunia Mixed Martial Arts (MMA). Bagi Merab, napas yang tersumbat mungkin menjadi tantangan, namun kehilangan waktu bertarung selama setahun adalah kekalahan yang sebenarnya tidak ingin ia alami. (*)
Editor : Indra Zakaria