Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bayang-Bayang Predator di Sungai Lamandau: Warga Diminta Menjauh

Redaksi Prokal • 2026-04-02 09:04:52
Petugas BKSDA memasang papan imbauan keberadaan buaya di pinggiran sungai.
Petugas BKSDA memasang papan imbauan keberadaan buaya di pinggiran sungai.

 


PANGKALAN BUN – Suasana tenang di tepian Sungai Lamandau, Kecamatan Kotawaringin Lama, seketika berubah menjadi ketegangan. Beberapa hari terakhir, warga Kabupaten Kotawaringin Barat dikejutkan oleh kemunculan sosok predator raksasa yang memecah permukaan air. Seekor buaya berukuran besar dilaporkan mulai sering menampakkan diri, menebar ancaman bagi siapa saja yang beraktivitas di sepanjang aliran sungai.

Ketua RT 01 Kotawaringin Hilir, Rusli Efendi, mengonfirmasi bahwa predator yang meresahkan tersebut diduga kuat merupakan jenis buaya Senyulong. Tak main-main, warga yang melihat langsung memperkirakan panjangnya mencapai lebih dari empat meter dengan diameter tubuh yang sangat besar.

Menariknya, kemunculan "sang penguasa sungai" ini justru terjadi saat debit air Sungai Lamandau sedang menyusut. Kondisi air yang dangkal membuat pergerakan buaya ini lebih mudah terpantau oleh mata telanjang.

"Dugaan kami, buaya ini masuk ke area permukiman warga untuk mencari mangsa. Sepertinya ia bermigrasi dari habitat aslinya di bagian hilir, sekitar wilayah Pongkalan Baru," ujar Rusli pada Kamis (2/4).

Kemunculan buaya ini memicu alarm waspada bagi para orang tua. Sungai Lamandau yang biasanya menjadi taman bermain alami bagi anak-anak untuk mandi dan berenang di pagi serta sore hari, kini menjadi zona berbahaya.

Umi Saskia, salah seorang warga setempat, mengaku tidak ingin kecolongan. Ia langsung memasang barikade larangan bagi anak-anaknya agar tidak mendekati air. Rasa trauma menyelimuti, mengingat keberanian anak-anak setempat yang biasanya sanggup berenang menyeberangi sungai pulang-pergi.

"Saya benar-benar tegas melarang mereka. Biasanya mereka sangat lincah berenang menyeberangi sungai, tapi dengan adanya ancaman ini, nyawa jauh lebih berharga. Tidak ada lagi aktivitas berenang untuk sementara waktu," ungkap Umi dengan raut khawatir. Merespons situasi yang kian genting, petugas BKSDA bersama aparat setempat mulai bergerak cepat. Papan-papan peringatan kini mulai menghiasi titik-titik rawan di sepanjang dermaga dan bantaran sungai sebagai pengingat visual bagi masyarakat.

Guna menghindari jatuhnya korban jiwa, pihak berwenang mengeluarkan protokol keselamatan ketat. Misalnya sterilisasi Sungai: Warga dilarang keras melakukan aktivitas di dalam air, baik itu mandi, berenang, maupun mencuci pakaian. Lalu meningkatkan kewaspadaan saat berada di area dermaga atau tepian sungai, terutama pada jam-jam aktif buaya (fajar dan senja). Warga juga diminta segera menghubungi petugas jika melihat pergerakan predator agar langkah evakuasi atau penanganan satwa bisa segera dilakukan.

Pemerintah setempat berharap warga tidak panik, namun tetap mengedepankan kewaspadaan tinggi hingga predator tersebut berhasil ditangani atau kembali ke habitat aslinya di hilir sungai. (*)

Editor : Indra Zakaria
#buaya