TANGERANG – Efek domino krisis minyak di Timur Tengah mulai merambah ke sektor penerbangan di Asia Tenggara. Maskapai berbiaya rendah asal Vietnam, Vietjet Air, secara resmi mengumumkan pemangkasan besar-besaran pada jadwal penerbangan mereka sepanjang bulan April 2026. Langkah pahit ini terpaksa diambil menyusul meroketnya harga dan sulitnya pasokan bahan bakar pesawat (avtur) di pasar global.
Pemandangan kontras terlihat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Rabu (1/4). Di balik mendaratnya armada Airbus A320 milik Vietjet, tersimpan fakta bahwa frekuensi kehadiran pesawat berwarna merah-kuning ini akan semakin jarang terlihat di cakrawala dalam beberapa pekan ke depan.
Manajemen Vietjet Air mengonfirmasi bahwa mereka menargetkan pengurangan total kapasitas penerbangan hingga 18% dari jadwal normal. Kebijakan ini merupakan upaya darurat perusahaan untuk menjaga efisiensi di tengah beban operasional yang membengkak akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi minyak dunia.
Sektor penerbangan domestik menjadi yang paling terdampak dalam efisiensi ini. Vietjet berencana memangkas hingga 22% kapasitas pada rute-rute dalam negeri. Sementara itu, untuk rute internasional, termasuk penerbangan menuju Jakarta dan Bali, maskapai ini akan melakukan pengurangan kapasitas sebesar 11%.
Langkah ini diprediksi akan berdampak pada jadwal perjalanan ribuan penumpang yang telah merencanakan penerbangan di bulan April. Para pengamat industri penerbangan menilai, jika krisis energi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin maskapai lain akan mengikuti jejak serupa untuk menghindari kerugian yang lebih dalam.
Hingga saat ini, pihak maskapai terus memantau dinamika pasar energi global sambil melakukan penyesuaian jadwal secara berkala guna memastikan operasional tetap berjalan meski dalam kapasitas yang terbatas. (*)
Editor : Indra Zakaria