Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

RSUD Abdul Rivai Tercekik Krisis: Pasien Membeludak, Kas Malah Tekor!

Redaksi Prokal • Rabu, 15 April 2026 - 08:20 WIB
RSUD dr. Abdul Rivai, Tanjung Redeb, yang saat ini menjadi sorotan akibat kendala finansial dan krisis stok obat di instalasi farmasi.
RSUD dr. Abdul Rivai, Tanjung Redeb, yang saat ini menjadi sorotan akibat kendala finansial dan krisis stok obat di instalasi farmasi.

TANJUNG REDEB – Kondisi mengkhawatirkan tengah menyelimuti RSUD dr. Abdul Rivai, di mana rumah sakit pelat merah di Kabupaten Berau ini sedang berjuang melawan tekanan finansial hebat. Meski jumlah kunjungan pasien terus meroket, pendapatan yang masuk justru tidak mampu menutup tingginya biaya operasional bulanan yang kian membengkak.

Krisis keuangan ini bukan sekadar persoalan angka di atas kertas, melainkan sudah berdampak langsung pada pelayanan publik. Dampak yang paling fatal dirasakan masyarakat adalah mulai seringnya terjadi kekosongan stok obat-obatan di instalasi farmasi, yang memicu keluhan dari para keluarga pasien.

Kepala Dinas Kesehatan Berau, Lamlay Sarie, mengungkapkan keheranannya terhadap fenomena anomali ekonomi yang terjadi di rumah sakit tersebut. Saat berbicara dalam Rapat Dengar Pendapat di DPRD Berau pada Senin lalu, ia menyebutkan bahwa stabilitas keuangan rumah sakit saat ini sedang berada dalam titik yang mengkhawatirkan.

"Secara logika, ketika pasien meningkat, pendapatan juga seharusnya naik. Namun yang terjadi tidak demikian," ujar Lamlay dengan nada prihatin di hadapan para anggota dewan. Ketimpangan ini rupanya berakar dari struktur pendapatan rumah sakit yang kini nyaris sepenuhnya bergantung pada satu pintu, yakni klaim BPJS Kesehatan. Tingginya angka kepesertaan jaminan kesehatan di Berau yang menyentuh angka 86 persen menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi akses kesehatan warga meluas, namun di sisi lain fleksibilitas finansial rumah sakit menjadi lumpuh.

Lamlay menjelaskan bahwa sebagian besar pemasukan rumah sakit kini hanya bergantung pada pembayaran BPJS yang tarifnya dipatok ketat oleh pemerintah pusat melalui sistem INA-CBGs. Kondisi ini diperparah dengan sistem tarif yang kaku, sehingga pihak RSUD tidak bisa menyesuaikan biaya layanan secara mandiri meski harga obat dan alat kesehatan di pasar terus melonjak tajam.

"Artinya, sebagian besar pemasukan rumah sakit hanya bergantung pada BPJS," jelasnya lebih lanjut mengenai ketergantungan tersebut. Selain ketergantungan pada klaim jaminan kesehatan, pendapatan rumah sakit semakin tergerus karena adanya eksodus pasien kategori umum dan VIP. Potensi pemasukan dari segmen ini merosot tajam karena banyak warga yang memiliki kemampuan finansial lebih memilih untuk mencari pengobatan ke luar daerah ketimbang bertahan di RSUD dr. Abdul Rivai.

Hal inilah yang kemudian mengganggu rantai pasok logistik medis, di mana stok obat sering kosong karena rumah sakit kesulitan melunasi kewajiban kepada pihak penyedia atau distributor. Meski dalam kondisi yang sangat terhimpit, Dinas Kesehatan Berau berjanji untuk terus mencari jalan keluar demi memastikan layanan kesehatan tidak berhenti total.

"Banyak tantangan, tetapi pelayanan kepada masyarakat harus tetap kami jaga," tegas Lamlay menutup penjelasannya.

Kini, masyarakat Berau hanya bisa menanti langkah konkret dari pemerintah daerah agar RSUD dr. Abdul Rivai segera pulih dari krisis, sehingga tidak ada lagi pasien yang harus pulang dengan rasa kecewa akibat resep obat yang tidak bisa ditebus.(*)

Editor : Indra Zakaria
#berau