Hotspot Berau Turun dari 779 Menjadi 50 Titik, Pemkab Berau Tetap Waspadai Karhutla

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau masih mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau yang berlangsung cukup panjang. Meski jumlah titik panas atau hotspot mengalami penurunan signifikan, kondisi kemarau tetap berpotensi memicu munculnya titik api di sejumlah titik.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengatakan kemarau yang berlangsung saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bumi Batiwakkal. Selain meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, kondisi tersebut juga menyebabkan munculnya kabut asap yang berdampak terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Situasi pun sempat cukup serius. Berdasarkan data per 29 Agustus 2026, jumlah hotspot di Kabupaten Berau mencapai 779 titik. Angka tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi di Kalimantan Timur saat itu. “Perkembangan kondisi terbaru menunjukkan adanya penurunan,” katanya.
Berdasarkan data BMKG Kalimantan Timur (Kaltim) periode 9 September 2026, jumlah hotspot di Berau tercatat 50 titik. Berau berada di posisi kedua di Kalimantan Timur setelah Kutai Kartanegara yang memiliki 64 titik panas.
Dari 50 titik panas yang tercatat di Berau, 4 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 45 titik pada tingkat kepercayaan menengah, dan 1 titik pada tingkat kepercayaan tinggi.
“Penurunan jumlah hotspot tersebut terjadi setelah sebelumnya kebakaran hutan dan lahan meluas,” terangnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, hujan juga mulai turun di sejumlah wilayah Berau. Meski intensitasnya masih kecil dan belum merata, hujan dinilai membantu menurunkan panas serta memberikan kelembapan pada tanah.
Kendati begitu, pemerintah daerah tidak ingin lengah. Kondisi kemarau masih perlu diwaspadai karena perubahan kelembapan tanah dapat kembali memicu munculnya titik api.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, tim gabungan masih disiagakan. Pemerintah daerah bersama BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, Manggala Agni, pihak swasta, dan unsur terkait lainnya terus melakukan pemantauan serta penanganan di lapangan.
“Upaya penanganan dilakukan melalui pemadaman dan pemantauan titik-titik api. Termasuk mendapat dukungan melalui water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC),” jelas Sri Juniarsih.
Di sisi lain, dirinya menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas yang selama ini berada di lapangan. Menurutnya, para petugas bekerja dalam kondisi panas dan kepulan asap untuk mengendalikan kebakaran sekaligus melindungi masyarakat.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




