Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Raungan Sang Singa Betina: Ketika Dendam Seorang Wanita Membakar Selat Inggris

Indra Zakaria • 2026-04-04 12:45:29
Jeanne de Clisson
Jeanne de Clisson

 PROKAL.CO- Sejarah sering kali ditulis dengan tinta yang mencoba membungkam suara perempuan, menyudutkan mereka dalam peran-peran pasif di balik bayang-bayang kekuasaan laki-laki. Namun, lembaran sejarah Brittany menyimpan satu nama yang menolak untuk tunduk, sebuah nama yang raungannya bergema melintasi abad dan tak pernah bisa dilupakan: Jeanne de Clisson. Di sebuah era yang mengharapkannya untuk runtuh dalam duka dan menghilang dalam jubah kesunyian, Jeanne justru bangkit, menjelma menjadi mimpi buruk paling mengerikan yang pernah melayari Selat Inggris.

Tragedi yang memicu transformasi mengerikan ini bermula pada tahun 1343, di tengah bara api Perang Suksesi Breton yang sedang berkecamuk. Suami tercinta Jeanne, Olivier de Clisson, ditangkap dan dituduh melakukan pengkhianatan oleh Raja Prancis. Tanpa melalui proses pengadilan yang adil, Olivier dieksekusi di depan umum, dan sebagai bentuk penghinaan terakhir, jenazahnya dipajang sebagai peringatan mengerikan bagi siapa saja yang berani menantang kekuasaan mahkota.

Baca Juga: Legenda Baja Damaskus: Rahasia Kekuatan Pedang Sultan Salahuddin yang Tak Tertandingi

Raja Prancis mengharapkan ketakutan dan kepatuhan mutlak dari rakyatnya; namun, apa yang ia sulut dari hati seorang Jeanne de Clisson bukanlah ketakutan, melainkan sebuah rencana pembalasan dendam yang dingin, terstruktur, dan mematikan.

Ilustrasi armada pasukan Jeanne de Clisson.
Ilustrasi armada pasukan Jeanne de Clisson.

 

Jeanne tidak memilih jalan yang biasa ditempuh oleh para janda bangsawan di zamannya—meratapi nasib di balik dinding biara. Ia mengambil keputusan radikal yang mengguncang tatanan feodal Eropa saat itu. Dengan tekad baja, ia melikuidasi seluruh harta kekayaannya, menjual tanah-tanah leluhur, puri, dan perhiasannya yang berharga untuk satu tujuan tunggal yang mengerikan: membeli sebuah perang. Dari uang hasil penjualan harta bendanya, ia membangun armada kapal perang yang kuat, yang kemudian dikenal dan ditakuti sebagai "Armada Hitam". Sebagai simbol peringatan visual yang menghantui, setiap kapal dicat dengan warna hitam kelam, dipadukan dengan layar yang berwarna merah darah, menciptakan pemandangan yang mencekam di tengah laut.

Baca Juga: Kisah Jason Everman: Gitaris yang Dipecat Nirvana dan Soundgarden, Lalu Jadi Prajurit Elite

Kehebatan Jeanne tidak hanya berhenti sebagai penyokong dana di balik layar. Ia adalah seorang pejuang sejati yang mengenakan baju zirah berat, berdiri tegak di haluan kapal dengan pedang terhunus di tangan. Selama tiga belas tahun penuh, armada ini memburu kapal-kapal dagang dan kapal perang Prancis di Selat Inggris dengan ketelitian dan kekejaman yang mengerikan. Laporan-laporan dari para pelaut Prancis yang berhasil selamat dengan tubuh gemetar menceritakan pola serangan Jeanne yang konsisten dan penuh perhitungan. Armada Hitam akan mengepung kapal target, lalu Jeanne dan pasukannya akan menaiki kapal tersebut. Di sana, Jeanne akan secara pribadi mengeksekusi para bangsawan Prancis yang ia temukan. Namun, ia selalu menyisakan satu atau dua orang pelaut biasa untuk hidup—bukan karena belas kasihan, melainkan agar mereka bisa kembali ke istana dan menyampaikan pesan kepada Raja bahwa Sang Singa Betina dari Brittany masih berburu.

Bagi Jeanne de Clisson, rangkaian serangan ini sama sekali bukan tentang perebutan mahkota, wilayah kekuasaan, atau kesetiaan pada sebuah kerajaan. Ini adalah masalah pribadi yang sangat mendalam dan membara. Ia membuktikan kepada dunia yang didominasi laki-laki bahwa hal paling berbahaya di muka bumi adalah seorang wanita yang telah kehilangan segalanya, kecuali keberaniannya. Luar biasanya, Jeanne de Clisson tidak gugur di tengah kecamuk medan perang. Setelah merasa puas menuntaskan dendamnya yang membara, ia akhirnya memutuskan untuk pensiun, menikah lagi dengan seorang bangsawan Inggris, dan menjalani sisa hidupnya hingga usia lanjut di Kastel Hennebont. Ia menghembuskan napas terakhirnya bukan sebagai catatan kaki yang terlupakan, melainkan sebagai sebuah kekuatan alam yang tak terbantahkan, membuktikan bahwa rasa sakit hati, jika ditempa dengan benar, memiliki kekuatan yang cukup untuk meruntuhkan keangkuhan sebuah kerajaan. Jeanne de Clisson tidak membela kerajaan; ia membalas dendam atas kematian seorang pria yang dunia harapkan untuk dilupakannya. (*)

Editor : Indra Zakaria
#bajak laut #inggris