PROKAL.CO- Di sudut-sudut kota London yang sibuk, tersimpan sebuah rahasia kuliner yang mampu mengubah cara kita memandang camilan sederhana. Samosa, yang hari ini akrab sebagai jajanan kaki lima praktis pengganjal lapar, ternyata menyimpan garis keturunan bangsawan yang megah. Jejak ini terungkap melalui sebuah manuskrip kuno dari awal abad ke-16 yang membuktikan bahwa camilan segitiga ini dulunya adalah bintang utama dalam perjamuan mewah para raja di India Tengah.
Harta karun sejarah ini dikenal sebagai Ni'matnama, sebuah judul yang secara puitis diterjemahkan sebagai "Kitab Kenikmatan". Disusun antara tahun 1501 hingga 1510 untuk Sultan Mandu, naskah ini bukan sekadar buku masak biasa yang berdebu. Ni'matnama adalah jurnal estetika kerajaan yang mendokumentasikan segala bentuk kesenangan indrawi, mulai dari racikan parfum eksotis, seni mengolah sirih, hingga puluhan hidangan yang dirancang untuk memanjakan lidah penguasa.
Perjalanan fisik naskah ini sendiri menyerupai alur film epik. Setelah Mandu jatuh ke tangan Kaisar Mughal, Akbar, pada tahun 1562, buku ini berkelana melewati berbagai tangan penguasa besar, mulai dari Kesultanan Adil Shahi di Bijapur hingga ke tangan pahlawan legendaris Tipu Sultan dari Mysore. Takdir akhirnya membawa manuskrip ini menyeberangi samudera ke tanah Inggris pasca-penyerbuan Srirangapatnam tahun 1799, hingga kini bersemayam di British Museum sebagai saksi bisu kejayaan masa lalu yang diterjemahkan oleh sarjana Nora Titley.
Saat kita membuka lembaran resep samosa di dalamnya, bayangan tentang isian kentang atau kacang polong yang sederhana seketika sirna. Resep "Sultan" ini menawarkan kompleksitas rasa yang sangat royal. Bayangkan daging cincang yang dimasak sempurna, berpadu dengan bawang bombay dan jahe kering, lalu diperkaya dengan tekstur lembut dari bubur terong dan aroma tajam bawang putih. Namun, keajaiban sebenarnya terletak pada sentuhan akhirnya: saffron mahal yang digiling halus dalam air mawar yang harum.
Semua isian mewah tersebut dibungkus dengan teliti dan digoreng dalam ghee atau mentega murni yang memberikan kilau keemasan serta aroma gurih yang mendalam. Sang penulis manuskrip, dengan kegembiraan yang tetap terasa segar meski telah melintasi lima abad, mencatat bahwa baik dibalut dengan kulit tepung kasar, halus, maupun adonan mentah, hasilnya tetaplah luar biasa lezat. Ini adalah ulasan makanan berusia 500 tahun yang masih mampu menggugah selera hingga hari ini.
Penemuan kembali resep asli ini menjadi pengingat lembut bahwa kuliner selalu berevolusi mengikuti zaman. Samosa yang kita nikmati di trotoar saat ini adalah versi yang telah "didemokrasikan" untuk rakyat, sebuah penyederhanaan dari leluhurnya yang sarat dengan rempah mahal dan bunga. Rekonstruksi resep ini bukan sekadar memasak, melainkan sebuah perjalanan waktu melalui indra perasa. Mencicipi perpaduan daging gurih, segarnya air mawar, dan legitnya saffron dalam satu gigitan renyah adalah cara terbaik untuk memahami bagaimana rasanya menjadi seorang Sultan di masa kejayaan Mughal. (*)
Editor : Indra Zakaria