MIAMI – Nama Cub Swanson adalah sinonim dari kata "veteran". Sepuluh tahun lalu, kemenangannya atas Choi Doo-ho dinobatkan sebagai Fight of the Year 2016. Kini, dengan pengalaman profesional selama lebih dari 20 tahun, Swanson telah menyaksikan dan merasakan sendiri seluruh evolusi modern MMA di dalam tubuhnya.
Di balik puluhan penghargaan Fight of the Night, Swanson menyimpan kisah kelam tentang perjuangan menghadapi cedera paling traumatis bagi seorang petarung: patah rahang. Dalam proses pemulihan, rahangnya harus diikat kawat (wired shut), sebuah kondisi yang secara psikologis sangat menyiksa.
Swanson menceritakan bahwa saat itu ia tidak bisa mengonsumsi obat pereda nyeri karena efek samping mual yang ditimbulkannya. Bagi petarung dengan rahang terkunci, mual adalah ancaman maut.
"Jika Anda muntah dalam kondisi rahang terikat kawat, Anda bisa tersedak. Dokter bahkan menyuruh saya membawa tang potong ke mana pun saya pergi untuk berjaga-jaga jika keadaan darurat itu terjadi," kenang Swanson. Meski pada akhirnya, ia mengaku tidak pernah benar-benar membawa alat tersebut.
Namun, rasa sakit fisik ternyata tak sebanding dengan rasa kesepian yang ia rasakan. Selama masa pemulihan, Swanson merasa dikucilkan oleh rekan-rekan setimnya. Alih-alih mendapatkan dukungan, ia justru merasakan keheningan.
"Saya ingat tidak mendengar kabar dari siapa pun dan merasa sangat sendirian. Akhirnya saya menyadari bahwa petarung memiliki 'kecacatan' mental itu. Mereka berpikir: Itu tidak mungkin terjadi padaku, itu tidak akan terjadi padaku," ungkap Swanson jujur.
Menurutnya, dunia MMA menuntut kepercayaan diri yang nyaris buta. Melihat rekan setim terluka parah adalah pengingat akan kenyataan pahit yang ingin dihindari oleh setiap atlet. "Anda harus memasang kacamata kuda karena Anda harus merasa percaya diri dan siap. Jika seseorang yang Anda kenal terluka, Anda tidak ingin memikirkannya terlalu dalam. Anda harus meyakinkan diri sendiri bahwa Anda akan melewatinya tanpa hal itu terjadi pada Anda," jelasnya.
Kesadaran diri Swanson untuk berbicara secara terbuka tentang kerentanan mental dan isolasi sosial di dunia petarung adalah sesuatu yang langka. Di saat banyak petarung memilih untuk terus tampil tangguh, Swanson justru membuka tabir tentang ketakutan kolektif yang menghantui ruang ganti.
"Setelah semua itu, saya menyadari: Oh, oke, bukannya mereka tidak peduli padaku. Hanya saja saya mengalami cedera serius, dan orang-orang tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa risiko itu selalu ada di depan mata mereka," pungkas Swanson.
Kisah Swanson bukan sekadar tentang teknik bertarung, melainkan tentang ketahanan seorang manusia yang melampaui batas fisik selama dua dekade di olahraga paling brutal di dunia. (red/ufc)
Editor : Indra Zakaria