Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bukan Asli Jepang? Menelusuri Jejak Sushi yang Ternyata Berakar dari Asia Tenggara

Redaksi Prokal • Selasa, 14 April 2026 - 15:01 WIB
Sushi
Sushi

PROKAL.CO- Siapa yang tidak kenal sushi? Makanan ikonik ini telah menjadi identitas global bagi negara Jepang. Namun, sebuah fakta sejarah yang mengejutkan mengungkapkan bahwa asal-muasal sushi justru tidak lahir di Negeri Sakura, melainkan berakar dari kawasan Asia Tenggara.

Sekitar 2.000 tahun yang lalu, masyarakat di Asia Tenggara, termasuk daerah sekitar Tiongkok, memiliki cara unik untuk mengawetkan ikan. Metode ini dilakukan dengan cara memfermentasi ikan menggunakan nasi yang didiamkan selama berbulan-bulan. Teknik kuno ini dikenal dengan nama narezushi.

Uniknya, pada masa itu nasi hanya berfungsi sebagai media pengawetan dan tidak untuk dikonsumsi. Setelah proses fermentasi selesai, nasi akan dibuang dan hanya ikannya yang dimakan karena sudah awet serta memiliki cita rasa yang khas. Teknik ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan kuliner tradisional Nusantara, seperti wadi atau pekasam khas Suku Dayak di Kalimantan, yang juga menggunakan metode fermentasi serupa. Hal ini memicu spekulasi bahwa teknik pengawetan tersebut kemungkinan besar berasal dari akar budaya nenek moyang yang sama di daratan Asia Tenggara.

Transformasi di Negeri Sakura

Teknik pengawetan ini baru masuk ke Jepang sekitar abad ke-8. Di sana, masyarakat mulai mengembangkan metode tersebut menjadi lebih variatif. Salah satu peninggalan teknik kuno yang masih bertahan hingga kini adalah funazushi, yakni pengawetan ikan emas dari Danau Biwa.

Seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran budaya makan di Jepang. Masyarakat tidak lagi membuang nasi fermentasi tersebut, melainkan mulai menyantapnya bersama ikan. Inilah titik awal di mana sushi mulai bertransformasi dari sekadar metode pengawetan menjadi sebuah hidangan utuh.

Memasuki zaman Edo (abad ke-17 hingga 19), sushi mengalami revolusi besar di kota Tokyo. Untuk memenuhi kebutuhan warga yang sibuk, muncul inovasi yang lebih praktis dan cepat saji yang dikenal sebagai nigiri sushi—nasi yang dikepal kecil dengan irisan ikan segar di atasnya. Pada masa itu, sushi bisa dibilang sebagai "fast food" asli Jepang karena bisa langsung dinikmati tanpa perlu menunggu proses fermentasi yang memakan waktu berbulan-bulan.

Pasca Perang Dunia II, sushi mulai melanglang buana ke negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat. Di sinilah sushi kembali mengalami adaptasi besar-besaran untuk menyesuaikan dengan selera lokal. Sekitar akhir 1960-an, lahirlah California Roll di Amerika Utara.

Inovasi ini diciptakan bagi lidah orang Barat yang saat itu belum terbiasa dengan tekstur rumput laut (nori) yang alot atau ikan mentah. Dengan menggunakan alpukat, crab stick, mentimun, dan teknik inside-out roll (nasi di bagian luar), sushi berhasil memikat pasar internasional.

Kini, sushi telah menjadi makanan internasional dengan ragam variasi yang tak terbatas, mulai dari yang sangat tradisional hingga versi modern yang unik di setiap negara. Meski bentuk dan bahan pelengkapnya terus berubah mengikuti zaman, inti dari sushi tetap tidak tergantikan: perpaduan harmonis antara nasi yang dibumbui dan kesegaran bahan makanan laut. (*)

Editor : Indra Zakaria
#sushi