ISTANBUL – Catatan sejarah dunia kembali menyoroti peran krusial Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) sebagai pelindung kelompok-kelompok Yahudi yang menghadapi persekusi di Eropa. Salah satu momen paling menentukan terjadi pasca-Dekrit Alhambra tahun 1492, di mana komunitas Yahudi dipaksa meninggalkan tanah air mereka di Spanyol.
Di tengah gelombang pengusiran tersebut, Sultan Bayezid II muncul dengan kebijakan yang sangat terbuka, menjadikan wilayah kekuasaannya sebagai rumah baru bagi para pengungsi Yahudi Sephardik. Sultan Bayezid II tidak hanya membuka pintu secara pasif, tetapi juga mengambil langkah aktif dengan mengirimkan armada Angkatan Laut Utsmaniyah untuk menjemput dan menyelamatkan para pengungsi. Langkah ini diambil sebagai bentuk keprihatinan sekaligus kritik terhadap kebijakan penguasa Spanyol kala itu.
Sultan meyakini bahwa kedatangan para pengungsi tersebut bukanlah beban, melainkan aset berharga bagi kekaisarannya. Sebagian besar komunitas Yahudi Sephardik kemudian menetap dan membangun kehidupan baru di kota-kota strategis seperti Konstantinopel (Istanbul), Salonika, dan Izmir.
Sistem Millet dan Otonomi Komunitas
Keberhasilan komunitas Yahudi untuk berkembang pesat di wilayah Utsmaniyah didorong oleh penerapan Sistem Millet. Sistem ini memberikan otonomi khusus bagi kelompok agama untuk mengelola pemerintahan internal dan urusan hukum mereka sendiri.
Kebebasan ini memungkinkan mereka memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas dan kemajuan ekonomi kekaisaran. Komunitas Yahudi memainkan peran vital dalam berbagai sektor kunci, mulai dari industri tekstil, kedokteran, hingga perbankan. Banyak di antara mereka yang menduduki posisi penting sebagai dokter istana maupun pejabat pemerintahan.
Salah satu kota yang paling menonjol dalam sejarah ini adalah Salonika. Kota ini berkembang menjadi pusat kebudayaan dan ekonomi utama bagi komunitas Yahudi Sephardik di dunia. Keamanan dan kebebasan yang ditawarkan oleh pihak kesultanan menjadikan komunitas ini salah satu kelompok paling sukses dan berpengaruh di masanya.
Sebagaimana dituliskan oleh Francine Friedman dalam kajiannya mengenai Yahudi di Kesultanan Utsmaniyah, sejarah ini menjadi bukti nyata bagaimana kebijakan yang inklusif dan perlindungan terhadap kelompok minoritas dapat memperkuat fondasi sebuah bangsa di tengah gejolak ketidakpastian global pada masa lampau. (*)
Editor : Indra Zakaria