TANGIER – Sejarah mencatat perjalanan luar biasa seorang pemuda berusia 21 tahun yang meninggalkan rumahnya di Tangier, Maroko, pada tahun 1325. Awalnya, ia hanya berniat menjalankan ibadah haji yang seharusnya tuntas dalam 16 bulan. Namun, siapa sangka, ia baru kembali ke kampung halamannya 29 tahun kemudian.
Pria itu adalah Ibn Battuta. Dengan total perjalanan mencapai 117.000 kilometer, ia secara telak melampaui rekor penjelajah terkenal lainnya seperti Zheng He (50.000 km) dan Marco Polo (24.000 km).
Modal Nekat dan Kecerdasan Diplomasi
Lahir pada 24 Februari 1304, Ibn Battuta berasal dari keluarga sarjana hukum Islam. Nama aslinya secara harfiah berarti "anak bebek". Ia terlatih sebagai seorang Qadi (hakim Muslim), sebuah kredensial yang menjadi "paspor emas" baginya.
Metodenya sangat elegan: ia memanfaatkan luasnya dunia Islam yang membentang dari Maroko hingga Semenanjung Melayu. Di mana pun ia berada, seorang sarjana yang fasih berbahasa Arab dan hafal hukum Islam dijamin akan mendapatkan keramahan dan perlindungan.
Ia tiba di istana-istana besar sebagai pria terpelajar, diangkat menjadi hakim, mengumpulkan hadiah, menikah dengan penduduk setempat, lalu melanjutkan perjalanan.
Odisei yang Penuh Keajaiban dan Teror
Perjalanannya bukan tanpa rintangan. Saat menuju Mekkah, ia sempat menderita demam parah hingga harus mengikat tubuhnya ke pelana keledai agar tidak jatuh pingsan. Namun, ia menolak untuk berhenti.
Ibn Battuta menjelajahi wilayah yang hampir mustahil dibayangkan: Persia, Irak, Azerbaijan, Yaman, Tanduk Afrika, pesisir Kenya, Krimea, Konstantinopel, Asia Tengah, India, Maladewa, Sri Lanka, Sumatra, hingga China. Ia bahkan menyeberangi Sahara dan menyusuri Grand Canal di Beijing.
Salah satu momen paling mendebarkan terjadi di Delhi. Sultan setempat yang dikenal murah hati namun kejam mengangkatnya menjadi hakim agung. Ibn Battuta menyaksikan teman-temannya dieksekusi secara rutin dan hidup dalam ketakutan harian sebelum akhirnya jatuh dalam aib.
Keajaiban yang Menyelamatkan Nyawa
Saat ditunjuk menjadi duta besar untuk China, ia membawa ratusan hadiah mewah termasuk kuda dan emas. Namun, ia tertinggal kapal karena menghadiri salat Jumat. Badai menghancurkan kapal-kapal tersebut beserta seluruh isinya. Selamat namun ketakutan untuk kembali ke Delhi, ia justru berlayar ke Maladewa, menikah dengan keluarga kerajaan, dan hampir melakukan kudeta politik sebelum akhirnya merasa situasi terlalu berbahaya dan pindah lagi.
Warisan dari Memori Luar Biasa
Hal yang paling menakjubkan adalah Ibn Battuta tidak pernah menulis jurnal. Selama puluhan tahun, ia menyimpan semua detail perjalanannya di dalam kepala. Ketika ia akhirnya kembali ke Maroko, Sultan memintanya mendiktekan pengalamannya kepada seorang sarjana.
Hasilnya adalah sebuah karya berjudul Rihla (Catatan Perjalanan). Di dalamnya, ia mendokumentasikan ritual kematian dengan detil antropologis, bertemu dengan lebih dari 60 Sultan, dan 2.000 tokoh terkemuka.
Meski sempat terlupakan dari buku teks sejarah selama berabad-abad dan baru dikenal luas di dunia Barat pada abad ke-19, kontribusinya terhadap geografi tidak tertandingi. Ibn Battuta membuktikan bahwa dengan sebuah kredensial, daya ingat yang kuat, dan ketidakmampuan untuk pulang, seseorang bisa menggenggam dunia di tangannya.
Ibn Battuta meninggal sekitar tahun 1368 atau 1369, meninggalkan warisan berupa dokumentasi dunia Islam abad pertengahan yang tidak memiliki tandingan dalam peradaban mana pun di masanya. (*)
Editor : Indra Zakaria