ROMA – Hidup di era Kekaisaran Romawi Kuno bukanlah perkara mudah. Untuk bertahan hidup di tengah kerasnya dunia kuno, ketangguhan fisik saja tidak cukup; Anda membutuhkan "perisai spiritual". Menariknya, bagi warga Roma, perlindungan terbaik tidak datang dari pedang, melainkan dari sebuah simbol yang mungkin dianggap tabu di era modern: Fascinus, sang dewa berbentuk falus (alat kelamin pria).
Bagi masyarakat Romawi, memakai kalung atau perhiasan berbentuk falus bukanlah sebuah pernyataan mode yang provokatif atau berbau pornografi. Sebaliknya, relik sejarah ini dianggap sebagai tindakan pencegahan yang sangat diperlukan terhadap kekuatan jahat. Uniknya, jimat ini justru paling sering diberikan kepada anak laki-laki dan gadis muda yang dianggap paling rentan terhadap gangguan gaib.
Dalam konteks sejarah, Fascinus berfungsi sebagai jembatan holistik yang menghubungkan identitas seksual, fisik, dan spiritual seseorang tanpa ternoda stigma. Orang Romawi tidak memamerkan perasaan mereka, tetapi mereka memakai Fascinus di leher sambil berdoa kepada para dewa, berharap kekuatan generatif maskulin tersebut menjaga keselamatan mereka.
Sayap, Kaki, dan Lonceng Angin yang "Memikat"
Orang Romawi dikenal sangat religius dan memiliki dewa untuk hampir setiap aspek kehidupan, mulai dari dewi pemecah roti hingga dewa pemotong ladang. Fascinus sendiri adalah dewa kekuatan generatif yang sering digambarkan secara unik dalam seni mozaik hingga perhiasan. Bukan sekadar bentuk anatomi biasa, falus ini sering kali digambarkan memiliki sayap atau bahkan kaki—atribut yang melambangkan kecepatan dan kekuatan untuk memburu kekuatan jahat.
Istilah modern "fascinating" atau mempesona, sebenarnya berakar dari kemampuan sang dewa untuk memikat siapa pun yang memandangnya. Salah satu penemuan menarik adalah lonceng angin kuno yang menggambarkan adegan surealis: seorang gladiator yang bertarung melawan Fascinus-nya sendiri yang berubah menjadi anjing gila. Bagi orang Romawi, penggambaran ini memiliki nilai filosofis dan protektif yang tinggi.
Sejarawan Philip Matyszak menjelaskan bahwa falus melambangkan kesuburan dan kesehatan. Karena dianggap sebagai simbol vitalitas, bagian ini secara alami menjadi sasaran utama "tatapan iri" (Evil Eye) dari orang lain. Oleh karena itu, jimat Fascinus menjadi semacam baju zirah spiritual bagi pria di medan perang.
Simbol ini bekerja seperti penangkal petir psikis, menarik dampak terburuk dari niat jahat dan menyerapnya sebelum mencapai sang pemilik. Salah satu mozaik kuno bahkan menggambarkan sosok kerdil dengan falus yang seolah memiliki kehendak sendiri untuk melawan kalajengking, gagak, dan makhluk jahat lainnya.
Meski dominasi Kekristenan perlahan memudarkan pemujaan terhadap Fascinus, maknanya tidak benar-benar punah. Beberapa sejarawan memandang Fascinus sebagai "malaikat pelindung" dari sihir hitam. Hal ini menjelaskan mengapa bentuk bersayap sangat umum pada jimat-jimat tersebut.
Hingga hari ini, pengaruh Fascinus masih dapat ditemukan dalam praktik Pagan dan Wiccan kontemporer. Dalam The Encyclopedia of Wicca & Witchcraft karya Raven Grimassi, Fascinus disebut sebagai salah satu jimat paling efektif melawan sihir gelap. Bagi mereka yang tertarik melihat jejak peninggalannya secara langsung, berbagai jimat dan referensi mengenai Fascinus masih tersimpan rapi di The Museum of Witchcraft and Magic di Cornwall, Inggris, membuktikan bahwa simbol perlindungan kuno ini memiliki daya tahan yang melampaui ribuan tahun sejarah. (*)
Editor : Indra Zakaria