Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jejak Kuliner di Surat Berusia Seabad: Kerupuk Kemplang dan Sambal Lengkong dalam Surat dari Mekkah Tahun 1914

Indra Zakaria • Sabtu, 11 April 2026 - 12:30 WIB
Surat bersejarah mengungkap sisi menarik dari hubungan emosional dan budaya antara Mekkah dan Palembang pada awal abad ke-20.
Surat bersejarah mengungkap sisi menarik dari hubungan emosional dan budaya antara Mekkah dan Palembang pada awal abad ke-20.

PROKAL.CO– Sebuah temuan surat bersejarah mengungkap sisi menarik dari hubungan emosional dan budaya antara Mekkah dan Palembang pada awal abad ke-20. Surat yang bertarikh tahun 1914 tersebut membuktikan bahwa kerinduan akan cita rasa khas Sumatra Selatan, seperti kerupuk kemplang dan sambal lengkong, telah melintasi samudra sejak lebih dari seratus tahun yang lalu.

Surat yang penuh dengan nuansa kekeluargaan ini ditulis oleh seorang perempuan bernama Hafsah binti Tengku Ibrahim. Dalam lembaran suratnya, Hafsah menyebut dirinya dengan sapaan kasih sayang "Bundah". Surat tersebut ditujukan kepada Kemas Haji Umar, seorang tokoh di Palembang, yang menunjukkan adanya ikatan erat antara komunitas Palembang yang menetap di Mekkah dengan tanah kelahiran mereka.

Di tengah pembicaraan mengenai kabar keluarga dan kehidupan di tanah suci, terselip penyebutan yang sangat spesifik mengenai kudapan tradisional. Hafsah menyebutkan kerupuk kemplang, kerupuk ikan khas Palembang yang dibakar, serta sambal lengkong atau abon ikan yang gurih. Penyebutan ini menjadi bukti sejarah tertulis (literatur) yang sangat kuat mengenai eksistensi dan popularitas kuliner tersebut di kalangan masyarakat Palembang sejak masa kolonial.

Kuliner sebagai Pengikat Identitas

Bagi para sejarawan dan kolektor dokumen kuno, penyebutan kemplang dan sambal lengkong dalam surat resmi atau pribadi di masa itu bukanlah hal yang sepele. Ini menunjukkan bahwa identitas kuliner Palembang telah terbentuk dengan mapan dan menjadi barang yang sangat berharga bagi mereka yang merantau jauh. Kerupuk kemplang dan sambal lengkong tampaknya bukan sekadar makanan, melainkan simbol "rumah" yang dibawa atau dikirimkan untuk mengobati rasa rindu di tanah asing.

Surat ini memberikan gambaran betapa kuatnya arus komunikasi dan pertukaran budaya antara Nusantara dan Timur Tengah pada tahun 1914. Meski komunikasi saat itu memakan waktu berbulan-bulan melalui jalur laut, hubungan emosional tetap terjaga melalui surat-surat yang kerap kali disertai dengan titipan barang atau kerinduan akan masakan kampung halaman.

Hafsah binti Tengku Ibrahim, melalui penanya, secara tidak sengaja telah mengabadikan identitas bangsa. Penemuan surat ini mempertegas posisi Palembang sebagai pusat peradaban dan kuliner di Sumatra Selatan yang pengaruhnya telah mendunia sejak lama. Hingga hari ini, kerupuk kemplang dan sambal lengkong tetap menjadi primadona kuliner yang tak lekang oleh zaman, sama seperti rasa sayang "Bundah" Hafsah kepada keluarganya di Palembang seabad yang lalu. Setelah terkubur dalam lipatan sejarah selama 112 tahun, kisah dalam surat ini muncul kembali sebagai pengingat bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, cita rasa masakan ibu dan tanah kelahiran akan selalu menemukan jalannya untuk dikenang. (*)

Editor : Indra Zakaria
#makkah #kuliner