Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kisah Tragis St. Bartholomew: Martir yang Dikuliti Hidup-hidup Demi Iman

Redaksi Prokal • Kamis, 9 April 2026 - 21:30 WIB
St. Bartholomew
St. Bartholomew

VATIKAN – Dalam sejarah panjang Kekristenan, kisah para martir yang mempertahankan iman hingga titik darah penghabisan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan. Salah satu kisah yang paling memilukan sekaligus heroik adalah kemartiran St. Bartholomew, salah satu dari dua belas rasul Kristus, yang mengalami siksaan luar biasa pada abad pertama Masehi.

Berdasarkan naskah miniatur dari House of Anjou Hungaria (1325–1335 M) dan catatan Golden Legend karya Jacobus dari abad ke-13, Bartholomew menemui ajalnya setelah berhasil mengonversi Raja Polemius di wilayah yang diyakini berada di sekitar India, Persia, atau Armenia.

Misi Suci yang Berujung Maut

Perjalanan Bartholomew dalam menyebarkan ajaran Kristen membawanya pada mukjizat pengusiran setan yang memicu kekaguman Raja Polemius. Namun, keberhasilan misi agama ini justru memancing amarah saudara laki-laki raja. Dalam kemurkaannya, sang pangeran memerintahkan pasukannya untuk menangkap Bartholomew, merobek pakaiannya, memukulinya, dan menjatuhkan hukuman yang sangat keji: dikuliti hidup-hidup.

St. Theodore Studita, seorang penulis dari abad ke-11, menggunakan metafora hewan untuk menggambarkan kengerian tersebut. Ia menyebutkan bahwa Bartholomew harus menanggung rasa sakit yang tak tertahankan saat tubuhnya diperlakukan oleh algojo layaknya sebuah "kantong kulit".

Perdebatan Sejarah dan Visualisasi Seni

Meskipun kisah pengulitan adalah yang paling populer, terdapat berbagai versi mengenai akhir hidup sang santo. St. Dorotheus berpendapat bahwa Bartholomew meninggal melalui penyaliban terbalik. Sementara itu, catatan lain dari St. Theodore mengklaim bahwa setelah dikuliti di Albania, sang rasul akhirnya dipenggal untuk mengakhiri penderitaannya.

Dalam dunia seni, khususnya iluminasi abad ke-14, momen kemartiran ini sering divisualisasikan dengan sangat detail. Beberapa lukisan bahkan menunjukkan gambaran surealis di mana Bartholomew berdiri mengenakan kulitnya sendiri yang tersampir di leher seperti sebuah mantel—sebuah simbol kemenangan iman atas penderitaan fisik.

Bagi umat Kristen saat itu, kemartiran dianggap sebagai "lencana kehormatan". Bartholomew tidak sendirian; ada St. Lawrence yang dipanggang hidup-hidup, St. Euphemia yang dilemparkan ke singa, hingga St. Castulus yang dikubur hidup-hidup.

Pengorbanan para martir ini dipandang sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Kristus, yang dianggap sebagai martir pertama. Dengan menerima penderitaan demi iman, Bartholomew dianggap telah mengikuti jejak pengorbanan Yesus secara total. Hingga kini, detail kemartirannya yang tersimpan di Morgan Library & Museum tetap menjadi pengingat sejarah tentang keteguhan prinsip yang harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. (*)

Editor : Indra Zakaria
#St. Bartholomew #katolik