Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pernikahan Berujung Duka di Purwakarta: Ayah Pengantin Tewas Dikeroyok Preman Akibat Tolak Pungli

Redaksi Prokal • Rabu, 8 April 2026 - 16:00 WIB
ilustrasi penikaman
ilustrasi penikaman

PURWAKARTA – Hari bahagia yang seharusnya dihiasi janur kuning di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, berubah menjadi tragedi kelam pada Sabtu (4/4/2026). Dadang, ayah dari mempelai yang sedang menggelar resepsi pernikahan, meregang nyawa setelah dikeroyok sekelompok preman kampung hanya karena menolak memberikan "uang keamanan" dalam jumlah besar.

Peristiwa memilukan ini bermula saat acara resepsi sedang berlangsung khidmat. Di tengah keriuhan tamu undangan, sejumlah pria mendatangi lokasi dan meminta jatah preman agar acara berjalan tanpa gangguan. Meski korban sudah menunjukkan iktikad baik dengan memberi uang sebesar Rp100.000, para pelaku justru merasa tidak puas.

"Mereka menuntut uang sebesar Rp500.000 sambil melontarkan kata-kata kasar dan intimidasi kepada tuan rumah," ujar salah satu saksi mata di lokasi kejadian.

Penolakan Dadang terhadap tuntutan tambahan yang tidak masuk akal tersebut memicu amarah membabi buta dari kelompok pelaku. Di hadapan para tamu yang histeris, korban dikeroyok hingga mengalami luka serius di bagian vital. Meski sempat dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat, nyawa ayah pengantin tersebut tidak tertolong akibat luka-luka yang terlalu parah.

Pihak Kepolisian Resor (Polres) Purwakarta segera bergerak cepat melakukan olah TKP dan memburu para pelaku. Kabar terbaru menyebutkan bahwa salah satu pelaku pengeroyokan telah menyerahkan diri karena merasa terdesak oleh kejaran petugas dan massa. Namun, polisi menegaskan bahwa pengejaran terhadap pelaku lainnya masih terus dilakukan oleh tim buser.

"Kami tidak akan menoleransi aksi premanisme dalam bentuk apa pun, apalagi yang sampai menghilangkan nyawa orang lain. Tim sedang di lapangan untuk memburu pelaku lainnya," tegas perwakilan kepolisian setempat.

Kini, lokasi yang semula dipenuhi dekorasi pesta telah dipasangi garis polisi. Kasus ini menjadi sorotan tajam publik sekaligus peringatan keras bagi aparat untuk memberantas praktik pungutan liar dan premanisme yang masih meresahkan masyarakat di tingkat akar rumput, terutama saat warga tengah melaksanakan hajatan penting. (*)

Editor : Indra Zakaria
#penikaman #kriminalitas