SAMARINDA- Setelah mewajibkan membeli buku tentang Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas'ud -meskipun belakangan dibantah dan hanya menyarankan- terbaru Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim kini membuat kebijakan tak biasa lainnya.
Melalui surat edaran bernomor: 000.8.3/21748/Disdikbud-XI/2025, tentang Salat Subuh Berjamaah yang dikeluarkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, seluruh pelajar SMA/SMK di Benua Etam wajib diwajibkan melaksanakan salat subuh berjemaah di masjid dan lingkungan sekolah setiap Jumat.
Edaran ini disebut dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta menindaklanjuti instrkusi Gubernur Kaltim terkait gerakan Salat Subuh berjamaah. Perintah surat tersebut seluruh SMA/SMK dan SLB se-Kaltim diinstruksikan untuk melaksanakan kegiatan Salat Subuh Berjamaah untuk siswa dan siswi yang beragama Islam.
Kemudian pelaksanaan salat subuh berjamaah dilaksanakan setiap hari Jumat. Lalu diimbau untuk dapat dilanjutkan dengan program kultum bagi tenaga pendidik dan seluruh siswa secara bergantian guna melatih kepercayaan diri dan penguasaan materi.
Selain itu Disdikbud Kaltim juga meminta kepada pengawas sekolah berperan aktif dalam mengawasi dan dapat melaporkan kegiatan ini secara berjenjang dan berkala baik ke Cabang Dinas maupun ke Bidang Pembinaan SMA, SMK dan PPK pada Disdikbud Kaltim.
Surat ini dibenarkan Plt Kepala Disdikbud Kaltim, Armin, saat dikonfirmasi media ini. Armin menyebut bahwa hal ini bersifat wajib karena merupakan instruksi dari Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. “Terutama yang beragama Islam dan guru agama, yah mereka mempunyai tanggung jawab. Kenapa Salat Subuh ini kita wajibkan, agar melatih siswa terbiasa dan menikmati suasana segar,” ucapnya.
Armin menyebut Gubernur meminta agar siswa biasa terbangun subuh. Di mana teknis kegiatan ini akan dilakukan oleh sekolah masing-masing. “Jadi semenjak surat kita kirim ini, sudah dilakukan dan dimulai. Jadi kita minta laporannya untuk sekolah. Mereka harus melaporkan kegiatan ini kepada Disdikbud Kaltim agar kita pantau. Jadi Gubernur bisa melihat ini berjalan dengan baik,” pungkasnya.
Sementara itu, Puji Rahayu, salah satu orang tua siswa di SMK negeri di Samarinda, yang mempunyai anak perempuan di sekolah tersebut mengaku takut, jika anaknya harus turun sebelum subuh. Sebab, kondisi tersebut masih rawan dan bisa saja ada kejadian tidak mengenakan dijalan.
“Kalau sekolah mau tanggung jawab, silakan. Saya harus diyakinkan dulu sebagai orangtua, karena anak saya perempuan dan mengendarai motor sendirian dari lokasi yang cukup jauh,” tegasnya.
Dirinya berharap, agar ada pertimbangan lebih baik dari dinas pendidikan terkait kegiatan ini dan memikirkan faktor resiko terhadap siswa. Sehingga bisa berjalan dengan baik dan tidak terkesan memaksakan. (mrf)
Editor : Indra Zakaria