Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kotim Siaga Kekeringan: Kemarau Datang Juni, Diprediksi Bertahan Lebih dari Empat Bulan!

Redaksi Prokal • Kamis, 9 April 2026 - 15:30 WIB
Ilustrasi kemarau.
Ilustrasi kemarau.

SAMPIT – Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diharapkan mulai melakukan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau tahun 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit mengeluarkan peringatan bahwa periode kering tahun ini akan datang lebih cepat dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya.

Berdasarkan analisis terbaru, musim kemarau diprediksi akan mulai menyapa Bumi Tabalong secara bertahap sejak awal Juni mendatang. Kondisi ini dipicu oleh adanya fenomena El Nino kategori lemah hingga moderat yang turut memengaruhi intensitas curah hujan di wilayah tersebut. Kepala BMKG Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa masuknya musim kemarau tidak terjadi secara serentak, melainkan bergeser dari wilayah utara menuju selatan Kotim.

“Wilayah utara diperkirakan mulai memasuki kemarau pada dasarian pertama Juni atau sekitar 1 Juni. Wilayah tengah menyusul pada dasarian kedua, sekitar 11 Juni,” jelas Mulyono pada Rabu (8/4).

Sementara itu, wilayah pesisir di selatan seperti Kecamatan Teluk Sampit dan Pulau Hanaut diprediksi menjadi wilayah terakhir yang memasuki musim kemarau, yakni pada akhir Juni atau sekitar tanggal 21 Juni.

Durasi 120 Hari: Puncak di Bulan Agustus
Hal yang paling menjadi sorotan adalah durasi musim kering kali ini yang diperkirakan mencapai sekitar 120 hari atau lebih dari empat bulan. Dengan rentang waktu yang cukup lama, kemarau diprediksi baru akan berakhir pada September mendatang, dengan puncak suhu panas dan kekeringan terjadi pada bulan Agustus.

Durasi yang cukup panjang ini membawa risiko serius bagi sektor lingkungan dan kebutuhan dasar masyarakat. "Durasi sekitar 120 hari, ini lebih lama dari biasanya. Puncaknya di Agustus," tambah Mulyono.

Seiring dengan hadirnya El Nino, BMKG mengingatkan potensi meningkatnya risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Kondisi vegetasi yang mengering dalam waktu lama akan menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut api. Selain itu, krisis air bersih juga membayangi, terutama di wilayah selatan yang sering mengalami penurunan debit air secara drastis saat kemarau panjang. Mulyono pun memberikan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar. Selain itu, penggunaan air bersih harus dilakukan secara bijak dan efisien mulai dari sekarang.

“Yang utama jangan membakar lahan, gunakan air secara bijak, jaga kesehatan, dan tetap aktif berolahraga untuk menjaga imunitas di tengah cuaca panas,” pungkasnya. (*)

Editor : Indra Zakaria
#kalteng #kotim #kemarau