PROKAL.CO- Operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kapuas Hulu kini tengah menghadapi tantangan serius. Sebanyak tujuh dapur penyedia layanan resmi dihentikan operasionalnya untuk sementara waktu akibat terganjal persoalan standar sanitasi dan pengelolaan limbah yang belum memadai.
Langkah tegas ini merujuk pada Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 401.1 Tahun 2025 yang mengatur tata kelola program tahun anggaran 2026. Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Kapuas Hulu, Soni Deviandi Putra, mengungkapkan bahwa dari total 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada, separuhnya terpaksa ditutup karena belum memenuhi persyaratan utama.
"Dari 14 SPPG atau Dapur MBG yang ada di Kapuas Hulu, untuk sementara ada tujuh dapur yang ditutup," ujar Soni saat memberikan keterangan pada Kamis (2/4/2026). Ia merinci bahwa pelanggaran mendasar terletak pada belum adanya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) serta Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) yang sesuai standar.
Menurut Soni, kondisi di lapangan cukup bervariasi; ada mitra yang sudah mengantongi sertifikat higiene namun belum memiliki IPAL, begitu pula sebaliknya. Ia menegaskan tidak ada tenggat waktu kaku untuk pemenuhan syarat ini, namun kecepatan operasional kembali sepenuhnya bergantung pada inisiatif mitra. "Jika mereka cepat mengurusnya, maka mereka juga akan cepat kembali beroperasional. Karena jika tidak beroperasi, maka tidak dibayar sama sekali, termasuk sewa dapur senilai Rp6 juta itu distop," tambahnya.
Dampak dari penutupan ini ternyata cukup luas dan tidak hanya memukul sisi finansial mitra pengelola. Soni menyoroti bahwa kerugian terbesar justru dirasakan oleh anak-anak sekolah sebagai penerima manfaat utama program ini. Selain itu, para relawan yang terpaksa berhenti bekerja serta para penyuplai bahan baku turut terkena imbas dari terhentinya aktivitas dapur.
Kondisi ini dibenarkan oleh Kalvin, salah satu pengelola SPPG di Desa Pala Pulau, Kecamatan Putussibau Utara. Ia mengakui dapurnya mulai berhenti beroperasi hari ini karena kendala pada sistem IPAL. Meski berdampak besar bagi ekosistem pendukung di sekitarnya, ia menyatakan komitmennya untuk segera membenahi fasilitas tersebut. "Kita pasti akan penuhi persyaratan yang diminta BGN. Mudah-mudahan kita berharap dapur MBG ini segera kembali beroperasi seperti biasa," harapnya.
Editor : Indra Zakaria