Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Khawatir Eskalasi Meluas, Arab Saudi Desak Amerika Serikat Cabut Blokade Selat Hormuz

Redaksi Prokal • Rabu, 15 April 2026 - 13:30 WIB
Kapal yang tertahan di Selat Hormuz.
Kapal yang tertahan di Selat Hormuz.

ISTANBUL – Langkah drastis Amerika Serikat yang memberlakukan blokade angkatan laut di Selat Hormuz mulai memicu kegelisahan di kalangan sekutu dekatnya di Timur Tengah. Arab Saudi secara resmi mendesak pemerintahan Donald Trump untuk segera menghentikan blokade tersebut dan kembali ke meja perundingan dengan Teheran. Riyadh mengkhawatirkan kebijakan "tangan besi" Washington ini justru akan memicu serangan balasan dari Iran yang dapat melumpuhkan jalur pelayaran vital lainnya di kawasan tersebut.

Kekhawatiran Arab Saudi ini berakar pada potensi eskalasi di titik rawan berbeda, yakni Selat Bab al-Mandab di Laut Merah. Menurut laporan yang mengutip pejabat regional, muncul ketakutan besar bahwa Iran akan membalas blokade AS dengan menutup jalur ekspor minyak utama milik kerajaan tersebut. "Negara-negara Teluk tidak ingin perang berakhir dengan Iran menguasai Selat Hormuz, yang merupakan jalur kehidupan ekonomi mereka. Namun, banyak pihak, termasuk Arab Saudi, mendesak AS untuk menyelesaikan masalah ini di meja perundingan," ungkap laporan tersebut menggambarkan dilema posisi negara-negara Arab saat ini.

Situasi di Selat Hormuz sendiri kian mencekam sejak blokade resmi diberlakukan pada Senin (13/4) pukul 21.00 WIB. Kebijakan ini diambil Trump setelah perundingan damai di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu tanpa kesepakatan akhir pekan lalu. Padahal, pertemuan tersebut sempat digadang-gadang sebagai jalan keluar untuk mengakhiri rangkaian serangan udara AS dan Israel ke wilayah Iran sejak akhir Februari, yang dilaporkan telah merenggut lebih dari 1.400 nyawa.

Meski ketegangan militer berada di level tertinggi, aroma diplomasi sebenarnya belum sepenuhnya hilang dari udara. Baik Washington maupun Teheran dilaporkan masih aktif terlibat dengan para mediator internasional. Arab Saudi dan beberapa negara tetangganya terus berupaya keras untuk memulai kembali pembicaraan, dengan keyakinan bahwa kedua belah pihak masih membuka pintu dialog asalkan terdapat fleksibilitas yang cukup untuk menurunkan ego masing-masing.

Bagi Arab Saudi, stabilitas Selat Hormuz adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Penutupan akses atau gangguan berkelanjutan di jalur tersebut bukan hanya ancaman bagi keamanan regional, tetapi juga guncangan hebat bagi ekonomi global yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk. Kini, mata dunia tertuju pada Gedung Putih; apakah Donald Trump akan melunakkan posisinya demi menjaga stabilitas pelayaran internasional, atau justru terus menekan Iran hingga titik didih yang tak terelakkan. (*)

Editor : Indra Zakaria
#selat hormuz