SEOUL – Presiden Korea Selatan, Lee, melontarkan kritik tajam terhadap Israel menyusul beredarnya rekaman video yang menunjukkan tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melempar seorang pemuda Palestina dari atap sebuah bangunan. Pernyataan keras ini menandai salah satu sikap diplomatik paling tegas yang pernah diambil Seoul terhadap konflik di Timur Tengah.
Presiden Lee menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran hak asasi manusia berat yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun, bahkan dalam situasi perang sekalipun.
Dalam pernyataan resminya, Presiden Lee menyamakan tindakan kekerasan yang terekam tersebut dengan berbagai tragedi kemanusiaan besar yang pernah terjadi dalam sejarah dunia. Ia secara spesifik menyinggung isu sensitif bagi masyarakat Korea, yakni perbudakan seksual pada masa penjajahan Jepang, hingga peristiwa Holocaust.
"Tidak ada perbedaan antara ini dengan isu perbudakan seksual pada masa perang Jepang yang kita angkat, pembantaian orang Yahudi, atau pembunuhan pada masa perang," tegas Presiden Lee.
Analogi ini dianggap sangat berani karena Korea Selatan selama ini sangat vokal menuntut keadilan terkait isu comfort women (budak seks) di masa pendudukan Jepang, serta secara historis mengakui penderitaan bangsa Yahudi selama Perang Dunia II.
Respons Keras Israel dan Ketegasan Seoul
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari Yerusalem. Kementerian Luar Negeri Israel segera merilis pernyataan balasan dan menyebut komentar Presiden Lee sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima". Pihak Israel menilai perbandingan tersebut tidak tepat dan menyinggung sensitivitas sejarah bangsa mereka.
Namun, alih-alih menarik kembali ucapannya atau memperhalus retorika diplomatiknya, Presiden Lee justru tetap pada pendiriannya. Ia memilih untuk menggandakan pernyataannya guna menekankan bahwa perlindungan terhadap warga sipil dan etika perang harus ditegakkan tanpa pandang bulu.
Dinamika Hubungan Internasional
Sikap "berani mati" Presiden Lee ini diprediksi akan mengubah peta hubungan diplomatik antara Korea Selatan dan Israel. Di sisi lain, langkah ini mendapatkan perhatian besar dari komunitas internasional sebagai bentuk kepemimpinan yang mengutamakan nilai kemanusiaan di atas kepentingan politik praktis.
Kini, perhatian dunia tertuju pada bagaimana Seoul akan menavigasi tekanan diplomatik yang muncul pasca-pernyataan tersebut, sementara desakan untuk penyelidikan independen terhadap video tentara IDF itu terus menguat di berbagai forum global. (*)
Editor : Indra Zakaria