Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Tensi Memanas, Menlu Iran Tantang Trump Kirim Tentara dan Ancam Tutup Selat Hormuz

Redaksi Prokal • 2026-04-03 12:00:54
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi

 
PROKAL.CO- Hubungan antara Teheran dan Washington kembali memasuki fase konfrontasi verbal yang sangat tajam. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, secara terbuka melontarkan tantangan provokatif kepada Donald Trump, menyusul pernyataan-pernyataan keras yang sebelumnya dikeluarkan oleh tokoh politik Amerika Serikat tersebut.

Dalam pernyataan yang dinilai banyak pihak sebagai pidato paling agresif sejak dimulainya eskalasi konflik di kawasan, Araqchi menantang keberanian Trump untuk merealisasikan ancamannya. Ia mendesak agar Amerika Serikat segera mengirimkan pasukannya ke Iran jika memang berniat untuk melakukan intervensi militer terkait pengelolaan jalur maritim strategis di Timur Tengah.

"Anda harus mengirim tentara Anda ke Iran, sebagaimana yang Anda katakan, untuk membuka Selat Hormuz jika Anda memang berani dan memegang teguh kata-kata Anda. Jangan terlalu banyak bicara, kirim saja tentara kuat Anda ke Iran," tegas Araqchi dalam pernyataannya yang disiarkan secara luas.

Tidak hanya melontarkan tantangan fisik, Menlu Iran ini juga menyisipkan sindiran tajam terkait trauma militer masa lalu. Ia bahkan secara sarkastik menawarkan bantuan transportasi jika militer Amerika Serikat merasa takut untuk terbang ke wilayah Iran. "Jika Anda takut mengirim mereka dengan pesawat seperti yang terjadi sebelumnya, kami akan mengirimkan pesawat Iran untuk mengangkut mereka," tambahnya.

Poin paling krusial dalam pernyataan tersebut adalah ancaman penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur urat nadi energi dunia. Araqchi mengklaim bahwa dalam waktu 30 hari ke depan, di bawah perintah kedaulatan Iran, selat tersebut akan ditutup total. Ia menegaskan bahwa tidak akan ada pihak mana pun yang berani membukanya kembali, bahkan dalam kurun waktu satu abad ke depan.

Selain menyerang Trump secara langsung, Araqchi juga menyeret nama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam retorikanya. Ia menyebut bahwa sekutu dekat Amerika Serikat tersebut saat ini tengah berada dalam tekanan hebat akibat aksi-aksi militer Iran yang menciptakan "mimpi buruk terus-menerus" bagi rakyat Israel.

Pernyataan bernada tinggi ini menandai perubahan signifikan dalam gaya diplomasi Iran yang biasanya lebih terukur. Munculnya kata-kata yang sangat lugas dan penuh ancaman ini dikhawatirkan akan semakin memperkeruh volatilitas pasar energi global serta meningkatkan risiko gesekan militer secara langsung di perairan Teluk. (*)

Editor : Indra Zakaria
#iran