Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pesan Cinta 1.900 Tahun Lalu: Sepotong Keranjang Buah Tin dan Kasih Sayang Anak di Mesir Kuno

Indra Zakaria • Sabtu, 11 April 2026 - 11:25 WIB
Papirus 2104, menjadi pengingat hangat bahwa hubungan antara ayah dan anak tidak pernah berubah, meski ribuan tahun telah berlalu.
Papirus 2104, menjadi pengingat hangat bahwa hubungan antara ayah dan anak tidak pernah berubah, meski ribuan tahun telah berlalu.

LONDON – Seberapa jauh jarak yang bisa ditempuh oleh rasa rindu? Bagi seorang pemuda di Mesir kuno sekitar abad ke-2 Masehi, jarak tersebut dijembatani oleh selembar papirus dan sekeranjang buah-buahan. Sebuah artefak bersejarah yang dikenal sebagai Papirus 2104, kini menjadi pengingat hangat bahwa hubungan antara ayah dan anak tidak pernah berubah, meski ribuan tahun telah berlalu.

Papirus yang saat ini tersimpan di Perpustakaan Britania (British Library) tersebut berisi pesan singkat namun sangat personal. Surat itu ditulis oleh seorang anak kepada ayahnya dengan nada yang sangat akrab dan penuh perhatian, sebuah potret keseharian yang jarang terekam dalam buku sejarah yang biasanya didominasi kisah para Firaun.

Buah Tin, Apel, dan Label Nama

Dalam surat tersebut, sang anak mengabarkan bahwa ia telah mengirimkan kiriman spesial berupa buah-buahan segar untuk sang ayah. "Ayah, baru saja mengirimkan sekeranjang buah tin dan 25 apel bagus. Aku menempelkan label dengan nama Ayah pada keranjang itu supaya Ayah tahu itu dari aku. Jaga kesehatan dan balas suratku!" demikian penggalan isi pesan yang tertera pada papirus tersebut.

Detail kecil seperti "menempelkan label nama" menunjukkan ketelitian sang anak agar kiriman tersebut tidak tertukar dan benar-benar sampai ke tangan ayahnya. Hal ini membuktikan bahwa sistem pengiriman barang dan kecemasan seorang pengirim sudah ada bahkan sejak zaman Romawi-Mesir.

Kemanusiaan yang Melintasi Zaman

Para arkeolog dan sejarawan sering kali menemukan dokumen administratif atau teks keagamaan, namun surat seperti Papirus 2104 memiliki nilai emosional yang tak ternilai. Pesan ini menunjukkan sisi manusiawi dari masyarakat kuno; tentang bagaimana mereka peduli pada kesehatan orang tua dan pentingnya saling bertukar kabar melalui surat.

Kalimat penutup "Jaga kesehatan dan balas suratku!" mencerminkan harapan universal setiap anak di mana pun dan kapan pun agar orang tua mereka tetap dalam kondisi baik. Artefak ini seolah menjadi mesin waktu yang membawa kita kembali ke masa 1.900 tahun lalu, membuktikan bahwa teknologi boleh berganti dari papirus menjadi pesan instan, namun esensi kasih sayang keluarga tetaplah abadi. (*)

Editor : Indra Zakaria
#papirus #mesir