Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pede dengan Kualitas, Coffee Stand Perkuat Identitas Kedai Kopi Lokal Tenggarong di Tengah Menjamurnya Waralaba Besar

Elmo Satria Nugraha • Senin, 6 April 2026 - 04:25 WIB
Ahmad Fajri di kedai kopinya, Coffee Stand yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Ahmad Fajri di kedai kopinya, Coffee Stand yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Aroma kopi tersebut sungguh semerbak. Aroma yang akrab dengan kehangatan itu memberi ciri khas caramel dan kematangan yang sedikit gosong namun tepat rasanya. Ia menyergap hidung tiap orang yang melaluinya—memberi kesan kuatnya identitas biji kopi yang baru saja melalui proses roasting pada sebuah kedai kopi kecil di tengah kota Tenggarong.

Coffee Stand namanya. Kedai kopi yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ini memang bukan satu-satunya kedai kopi sepanjang kawasan turap atau pinggir sungai Kota Raja. Namun, ciri khas kopi yang mereka jual membuat Coffee Stand terpatri sebagai kedai kopi yang kuat berdiri hingga saat ini.

Berdiri di tengah menjamurnya bisnis kopi, dari yang lokal hingga waralaba besar. Coffee Stand ‘pede’ dengan kopi yang mereka tawarkan, bahkan setelah berdiri hampir delapan tahun. Kedai ini konsisten merawat kualitas kopi mereka, yang ikut menjaga konsumennnya dari tahun 2019 sampai hari ini. 

Bagaimana tidak, di balik meja bar, barista bekerja tanpa banyak suara. Biji kopi mereka dipanggang oleh pemanggang kopi lokal bernama Etoos Roastery yang dimiliki Muhammad Nur Huda. Kopi ini dipanggang dan digiling seketika, menghasilkan bubuk halus yang langsung mengeluarkan aroma lebih segar. 

Ketika air panas dituangkan, uap tipis perlahan naik, menyebarkan wangi yang semakin kuat dan menggoda. Proses penyeduhan dilakukan di satu tempat yang sama, memastikan setiap cangkir disajikan dalam kondisi terbaik. Meski telah dicampur kondimen seperti susu UHT, krimer dan sirup—kopi yang diproduksi Coffee Stand selalu menghadirkan aroma tajam, dengan karakter pahit yang bersih dan hangat saat diminum.

Kedai kopi ini dimiliki oleh Ahmad Fajri (34), seorang pemuda yang telah merintis bisnisnya sejak tahun 2019 silam. Pun lahirnya Coffee Stand ini berawal dari seringnya rumah Fajri sebagai wadah nonton bareng (Nobar). Tempat yang ia tinggali, ternyata juga akan menjadi tempat ia merintis bisnis—lantaran melihat potensial ramainya orang berkumpul.

“Awalnya sempat ini memang sudah digunakan sejak sekitar 2014 untuk kegiatan seperti nobar. Baru di akhir tahun 2019 mulai serius kembangkan usaha kopi, apalagi kopi mulai ramai saat itu,” cerita Fajri kepada Prokal.co, Minggu (5/4/2026).

Kopi berperan penting dalam perjalanan Fajri menjajaki kehidupan pebisnis. Ia hanya seorang penikmat kopi, namun peran tersebut berkembang menjadi ketertarikan untuk belajar kopi dari dasarnya dan secara manual. Pengetahuan ini pun yang kemudian menjadi bekal ia merintis bisnis kopi, memanfaatkan rumah keluarganya.

“Dulu itu kerja sama dengan teman dari Samarinda yang punya peralatan kopi, sementara saya menyediakan tempat. Tapi dari situ mulai belajar lebih dalam, sambil jalan pelan-pelan melengkapi peralatan sendiri,” lanjutnya.

Tidak ada konsep spesifik yang diangkat Coffee Stand. Namun mereka tetap berpegang teguh pada idealisme awal mereka membuka kedai kopi, yakni menyajikan kopi yang berkualitas. Untuk menjaganya, Coffee Stand bekerja sama dengan Etoos Roastery untuk menjaga kualitas dan suplai kopi.

Pun untuk menu kopi lainnya, Fajri pastikan benar-benar sesuai standar kedai. Terkhusus di espresso, untuk tetap memiliki rasa pahit dan pekat. Begitu digabungkan menjadi menu seperti Kopi Stand, Kopi Susu hingga Baileys Coffee—takaran yang dikandung tidak akan mengubah rasa khas kopi yang dihasilkan dengan tangan barista terlatih mereka.

“Kami memang menjaga konsistensi dan kualitas kopi kami. Kalibrasi kopi itu penting, bahkan kalau harus ‘membuang’ kopi demi menjaga rasa, tidak masalah. Yang penting kualitas tetap terjaga setiap hari,” lanjutnya.

Fajri juga bercerita suka duka membangun bisnis kopi, yang seiring berjalannya waktu dirintis satu per satu. Dari menggunakan mesin manual Rock Presso untuk membuat espresso, hingga kini memiliki mesin espresso otomatis. Proses-proses ini membuat pertumbuhan bisnisnya terasa lebih mengikuti kebutuhan, bukan sekadar keinginan atau gengsi.

Karena naik turun bisnis ini telah dirasakan Fajri. Dahulu saat pandemi Covid-19 kondisi sangat berat, untuk mendapatkan Rp100 ribu sehari saja sungguh sulit. Namun tekadnya tetap kuat untuk terus berjalan mengembangkan bisnisnya. Meski Fajri tumbuh di keluarga yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), ia berkomitmen menjadi pebisnis.

“Kedai ini mulai stabil kembali sekitar tahun 2022 hingga 2023. Sejak saat itu, usaha mulai terasa lebih nyaman dijalankan. Dan sekarang dalam kondisi normal, penjualan bisa mencapai sekitar 100 cup per hari, bahkan lebih saat akhir pekan,” tuturnya.

Harga kopi yang dijual di Coffee Stand relatif terjangkau, menu dari kopi hingga non kopi memiliki jenjang harga dari Rp15 hingga 25 ribu. Harga ini membuat target pasarnya menjangkau seluruh tingkat masyarakat, dari pelajar, mahasiswa hingga pekerja. Pun Fajri memastikan dirinya tidak ambil pusing mengenai persaingan bisnis.

Meski bisnis kopi telah menjamur di Kota Raja, Coffee Stand lebih fokus mendengar dan melihat kebutuhan pelanggan. Apa yang dibutuhkan, itu yang dipenuhi. Alih-alih berkembang karena mengikuti standar usaha lain, Fajri lebih menekankan konsisten menjaga kualitas dan memenuhi kebutuhan konsumennya.

“Untuk harga memang kami pertahankan tetap terjangkau. Walaupun secara hitungan sebenarnya cukup berat, tapi kami ingin kopi ini bisa dinikmati semua kalangan. Karena kami ingin orang yang datang ke sini tetap bisa menikmati kopi tanpa merasa terbebani harga. Jadi ada kesan yang didapat pelanggan,” tutup Fajri.

Di Coffee Stand, aroma kopi bukan sekadar pelengkap. Ia menjadi daya tarik utama yang menyambut, mengikat, sekaligus membuat pelanggan kembali datang. Bukan sekedar menjadi tempat menikmati secangkir minuman hangat, melainkan jadi titik temu orang dengan berbagai latar belakang, cerita, dan tujuan masing-masing yang disatukan kopi.

Ada yang datang membawa kesibukan, membuka laptop di sudut meja. Ada pula yang memilih berbincang santai, menukar cerita di sela tegukan kopi. Sebagian lainnya hanya ingin diam, menikmati waktu sendiri tanpa gangguan. Semua menemukan tempatnya di Coffee Stand.

Di tengah gempuran waralaba kopi besar, Coffee Stand menemukan cara untuk berdiri dengan identitasnya sendiri. Tidak dibangun dari skala, melainkan dari kedekatan dan karakter yang lebih personal. Mulai dari racikan kopi, cara penyajian, hingga interaksi dengan pelanggan yang terasa lebih hangat dan akrab namun tetap autentik.  (moe)

Editor : Indra Zakaria
#kutai kartanegara