TANJUNG REDEB – Persoalan pengangguran di Kabupaten Berau menghadapi realitas yang ironis. Di tengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan, sektor perkebunan kelapa sawit yang sedang membuka lowongan kerja secara besar-besaran justru minim diminati oleh masyarakat lokal. Kondisi ini menyebabkan posisi-posisi strategis di perkebunan lebih banyak diserbu dan diisi oleh tenaga kerja pendatang, terutama dari wilayah Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi.
Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Berau, sektor sawit sebenarnya membutuhkan suplai tenaga kerja yang sangat besar untuk mendukung operasional di lapangan. Namun, kecenderungan tenaga kerja putra daerah yang hanya terpaku pada sektor pertambangan sebagai tujuan utama mencari nafkah menjadi penghambat penyerapan tenaga kerja di sektor hijau tersebut. Sektor tambang masih dianggap sebagai primadona, meski persaingan masuk ke perusahaan batubara kini kian kompetitif dengan kualifikasi yang sangat tinggi.
Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, menyayangkan sikap pilih-pilih pekerjaan yang masih melekat di kalangan pemuda setempat. Ia mengungkapkan bahwa pada tahun lalu, terdapat sekitar 500 formasi tenaga kerja di industri kelapa sawit yang tersedia, namun sayangnya tidak mendapatkan respons positif dari warga lokal. Obsesi berlebihan pada satu sektor dinilai sering memicu gesekan sosial saat proses rekrutmen tambang tidak mampu mengakomodasi seluruh pencari kerja karena ketimpangan kualifikasi.
Subroto mengingatkan agar masyarakat lebih realistis dalam melihat peluang ekonomi yang ada di depan mata. Menurutnya, ketergantungan pada sektor pertambangan harus mulai dikurangi dengan melihat potensi karier di sektor perkebunan yang tidak kalah menjanjikan secara ekonomi. Ia meminta masyarakat untuk tidak lagi memandang sebelah mata pekerjaan di sektor sawit dan segera mengambil peluang yang tersedia demi kemandirian ekonomi keluarga.
Guna mengatasi ketimpangan ini, DPRD Berau mendorong pemerintah daerah melalui instansi terkait untuk menggencarkan sosialisasi mengenai prospek kerja di sektor perkebunan. Langkah ini diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi memilah-milih pekerjaan, sehingga potensi ekonomi daerah di luar sektor tambang dapat dikelola secara maksimal oleh tenaga kerja lokal sendiri. (*)
Editor : Indra Zakaria