BALIKPAPAN – Prahara harga tiket pesawat yang tak kunjung melandai kini mulai memakan korban nyata di sektor ekonomi riil. Bukan hanya masyarakat umum yang mengeluh, namun industri tour and travel di Balikpapan kini tengah menghadapi ancaman kolaps yang sangat serius. Lonjakan harga tiket yang dinilai tidak masuk akal telah memaksa banyak agenda perjalanan yang sudah disusun jauh hari berakhir di keranjang sampah, meninggalkan kerugian besar bagi para pelaku usaha pariwisata yang baru saja mencoba merangkak bangkit pascapandemi.
Gita, pemilik Adita Jaya Angkasa, mengungkapkan betapa getirnya kondisi bisnis perjalanan saat ini akibat beban transportasi udara yang kian berat. “Kenaikan harga tiket sangat berpengaruh pada operasional kami. Beberapa perjalanan yang sudah dijadwalkan ke luar kota terpaksa dibatalkan karena harganya sudah terlalu mahal dan tidak masuk dalam anggaran pelanggan,” ujarnya dengan nada kecewa. Menurutnya, efek kenaikan ini sangat instan dan menyakitkan karena langsung memutus rantai minat konsumen untuk melakukan mobilisasi.
Kondisi ini semakin diperparah bagi segmen perjalanan kelompok, seperti wisata rombongan komunitas atau perjalanan dinas instansi yang menjadi tulang punggung agen travel. Gita menjelaskan bahwa perjalanan jenis ini adalah yang paling terdampak karena pembengkakan biaya tiket pesawat secara akumulatif menjadi sangat besar. “Efisiensi anggaran dari pemerintah dan perusahaan juga sangat berpengaruh. Banyak kegiatan perjalanan yang sebelumnya rutin kini dikurangi atau bahkan dihapus sama sekali,” tambahnya lagi. Hal ini membuat permintaan jasa travel anjlok ke titik terendah dalam waktu yang sangat singkat.
Menghadapi tekanan yang kian menghimpit, para pelaku usaha travel di Balikpapan sebenarnya tidak tinggal diam dan terus memutar otak untuk bertahan. Berbagai strategi mulai diluncurkan, mulai dari menawarkan paket perjalanan alternatif dengan biaya rendah hingga mengalihkan destinasi ke lokasi yang bisa dijangkau jalur darat atau laut. Namun, upaya kreatif ini diakui belum sepenuhnya mampu menutupi lubang besar penurunan permintaan. "Kami mencoba menyesuaikan jadwal dengan tiket promo, tapi jumlahnya sangat terbatas dan sulit sekali didapat," ungkap Gita menggambarkan sulitnya bermanuver di tengah tingginya harga avtur. (*)
Editor : Indra Zakaria